Tuesday, June 9, 2009

PERSAHABATAN

“Honeeey, mau dijemput jam berapa?” tanya wanita muda yang duduk di sebelah Desta seraya membelainya manja.“Nggak usah, Desta bisa pulang sendiri,” jawabnya ketus.“Nggak bisa gitu donk, Honey. Masak anak anggota DPR pulang naik taxi, kan gak lucu,” ujar wanita bersergam itu lagi. Desta melengos, keluar dari kereta kencana yang ditumpanginya. Sampai kapan aku dipanggil, Honey! Gerutunya dalam hati.“Jangan lupa sepulang sekolah ada les piano. Tunggu sampai Pak Parmin datang. Jangan membodohinya lagi yaaaa…Daaaagh, Honey..!” kata wanita itu setengah berteriak. Wajah cantik berkaca mata hitam itu nongol dari balik kaca mobil BMW keluaran anyar. Tapi yang diajak bicara sudah jauh berjalan tanpa memedulikan kata-kata wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu. Bukannya tak patuh, tapi Desta hanya ingin belajar dewasa. Dia tidak ingin selalu dimanja. Perhatian Mami Papinya selama ini terlalu berlebihan. Desta hanya ingin bebas menemukan jati dirinya dan bermanfaat bagi orang lain, bukan malah bergantung pada mereka.Sambil menunduk dan sesekali membenahi letak kacamata minus tebalnya, Desta menyusuri lorong-lorong kelas. Dia tahu beberapa pasang mata sedang tertuju padanya, mengiringi setiaplangkah dan gerak-geriknya. Dia berusaha setenang mungkin,walaupun saat ini jantungnya sedang berpacu cepat dan darahnya sedang berdesir kencang. Nervous.“Eh, minggir! Kasih jalan buat anak mami!” komando seorang siswa pada teman-temannya yang sedang bergerombol di depan kelas Desta, XI IPA 2. Desta melewati barisan anak-anak yang biasa mengusilinya itu dengan agak ragu. Entah, firasatnya sedang tidak enak saat ini. Benar saja, tiba-tiba…bugh! Desta terjatuh. Kakinya tersandung. Bukan,lebih tepatnya dijegal. Bibir kecilnya meringis. Sakit.“Ck..ck..ck.. Kacian, anak mami jatuh. Cakit ya..??” celetuk salah seorang dari mereka, disusul gelak tawa dari yang lain.Desta mencoba bangkit setelah memungut kacamatanya yang jatuh. Wajah putihnya memerah. Hampir saja cairan bening itu berhamburan dari sudut mata cekungnya. Tapi segera ia hapus sebelum ketahuan. Dia tak mau melawan karena tak ingin menambah masalah. Lagipula, dia hanya ingin berteman. Apa itu salah? Dia bukan anak cengeng, hanya saja dia belum bisa beradaptasi dengan suasana seperti ini. Lingkungan SMAnya sekarang jauh berbeda dari keadaan SD, SMP, apalagi tempat tinggalnya. Dia tidak terbiasa dengan gaya hidup anak sekolahnya yang bisa dibilang ‘amburadul’. Tapi dia harus bertahan. Bukankah ini pilihannya?Sejak menjadi siswa baru di sekolah itu, Desta sudah terlihat beda dari yang lain. Penampilan kelas atasnya kerapkali membuat kecemburuan sosial di seantero sekolah. Bagaimana tidak, hanya dia satu-satunya anak pejabat teras yang bersekolah di sana. Orang tuanya sudah melarangnya untuk masuk ke sekolah menengah ke bawah itu. Tapi sekali lagi, ini adalah kemauannya. Tak ada seorangpun yang mampu mencegahnya, sekalipun itu Mami dan papinya sendiri. Desta hanya ingin bersahabat dengan mereka. Berkumpul, berbagi suka duka, dan menolong teman-teman yang kurang mampu. Desta ingin menjalin tali kasih dengan mereka. Dia bosan dengan kehidupan glamournya selama ini. Dia tak ingin menjadi pohon cemara yang menjulang tinggi tanpa memandang rumput-rumput kecil di bawahnya yang terinjak. Desta ingin ikut merasakan penderitaan mereka. Apa itu salah?Sayangnya, kenyataan berkata lain. Selama setahun di sekolah ini, bukan cinta kasih yang didapat, tapi umpatan, ejekan, dan perlakuan kasar yang diterimanya. Bahkan, Desta menjadi bulan-bulanan sebuah gank terkenal dan disegani di sekolahnya. Joko Tole! Gank itu beranggotakan: Amir yang sok jagoan, Galih yang sok tahu, Mamang yang penakut, Paijo yang yang jahil bin usil, Tejo yang dekil dan tengil, dan terakhir, sang komandan yang bertubuh tinggi besar, berkulit gelap, berambut kribo dan bertampang sangar, Jaka. Meskipun begitu, Joko Tole tetap menjadi idola di hati para siswa karena ketulusan dan kemurahan hati mereka. Tapi tidak untuk Desta. Why?
Teet..!! Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu Desta tiba. Pulaaang! Seperti biasa, dia harus melewati halaman belakang sekolah jika tak ingin Pak Parmin melihatnya. Hatinya belum lega jika belum sampai di jalan raya dan menaiki bus kota. Syukurlah, bus yang dinanti datang juga. Desta segera naik dan diikuti oleh teman-temannya yang lain. Bus kini lebih pengap dengan campuran aroma keringat anak sekolahan. Tapi anehnya, desta sangat menikmati saat-saat seperti ini. Panas, gerah, dan berdesakan membuatnya banyak belajar tentang arti kesabaran. Apalagi ketika dia harus melemparkan senyum tulusnya dan merelakan dirinya bergantungan pada besi di tengah bus demi seorang nenek tua atau Ibu hamil yang menginginkan tempat duduknya. Ada cahaya bahagia terpancar dari wajah letihnya yang semakin membuatnya terlihat tampan. Bus mulai agak kosong. Sekarang Desta bisa duduk tenang di bangku pojok paling belakang. Sambil menikmati suasana kota Jakarta dari sebrang jendela, Desta bergumam dalam hati, Sungguh ironis, gedung-gedung tinggi nan megah berdiri angkuh menatap langit, sedang di bawahnya, rumak-rumah kumuh terbuat dari tumpukan kardus tinggal menunggu kapan akan digusur. Ah, pemandangan yang kontras dan melelahkan mata. Lamunannya buyar ketika suara yang begitu dikenalnya meminta izin pada seisi bus untuk melantunkan sebuah lagu. Dengan sedikit ragu didongakkan setengah kepalanya sampai terlihat samar-samar di sela-sela barisan kepala manusia, enam anak berseragam sekolah memainkan gitar, ecek-ecek, dan entah apa lagi sedang menyanyikan sebuah lagu milik Sindentosca dengan suara fales. Desta kenal betul dengan suara itu. Gank Joko Tole!Gawat Desta! gimana kalo mereka ngeliat kamu di bus ini? Pasti mereka akan mempermalukan dan mengejekmu di sekolah besok. Lebih baik kamu sembunyi. Jangan berteman dengan mereka. Mereka jahat!Tidak Desta, justru ini kesempatanmu untuk mengambil hati dan menjalin persahabatan dengan mereka.Desta bingung. Dua makhluk di atas kepalanya beradu agumen. Mana yang harus ia turuti? Untuk beberapa saat Desta sibuk dengan pikirannya. Sebelum "Kepompong"nya Sindentosca habis, Desta bangkit dari tempat duduk dan mengulurkan topi sekolahnya pada penumpang seraya memberi isyarat pada mereka untuk tetap bernyanyi, sementara dia yang meminta sawerannya. Kontan Joko Tole kaget dan kelimpungan. Entah keberanian dari mana, Desta memberikan hasilnya yang lumayan banyak (ditambah uang sakunya) pada mereka.“Ngapain elu sok ikut ngebantuin segala! Kita gak butuh bantuan anak manja macem lu!” bentak Jaka sinis. Tanpa mengambil uang yang dikumpulkan Desta, mereka segera turun. Dengan wajah ditekuk Desta kembali ke bangkunya semula. Mau berteman saja susahnya minta ampun. Gumamnya dalam hati.